Kiprah Alumni

Antibodi Anti IDALLE L-ESAT 6 sebagai Faktor Protektif yang Berperan dalam Kekebalan terhadap M.Leprae

          Moch. Irfan Hadi, salah satu alumni S2 Kesehatan Lingkungan angkatan (2008/2009) telah berhasil menyelesaikan studi lanjut Doktoral di Program Studi Ilmu Kesehatan FKM Unair. Moch Irfan Hadi, dosen di Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya berhasil menemukan marker protektif manusia terhadap kusta melalui pemeriksaan Antibodi IgG anti IDALLE L-ESAT6 pada narakontak serumah penderita kusta MB.

          Irfan meneliti beberapa faktor risiko yang berpengaruh terhadap kusta stadium subklinis pada narakontak serumah di daerah endemis penyakit kusta. Faktor risiko yang diteliti adalah faktor karakteristik individu, karakteristik lingkungan, dan faktor imunitas individu. Karakteristik individu diwakili oleh variabel umur, jenis kelamin, higiene personal, dan kadar seng serum. Karakterisktik lingkungan diwakili oleh variabel sanitasi rumah dan eksistensi DNA M.Leprae dari sumber air dan tanah di sekitar rumah narakontak. Sedangkan untuk faktor imunitas individu diwakili oleh imunitas humoral antibodi IgG anti IDALLE L-SAT 6. IDALLE L-ESAT 6 merupakan epitop protektif yang ditemukan pada perawat sehat bebas kusta yang telah bekerja dan merawat penderita kusta di rumah sakit kusta selama minimal 10 tahun (Kurdi, 2009). Terdapat narakontak serumah yang tetap sehat dan tidak tertular kusta meskipun telah kontak cukup lama dengan penderita kusta kemudian hal ini diperankan oleh ekspresi antibodi IgG anti IDALLE L-ESAT 6 terhadap kusta stadium subklinis (seropositif terhadap PGL-1) pada narakontak serumah di daerah endemis. Sebagai daerah penelitian adalah Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.

          Berdasarkan penelitian yang telah dilakukannya, Irfan menyarankan agar masyarakat yang tinggal atau kontak dengan penderita kusta sebaiknya melakukan tindakan pencegahan dengan meningkatkan konsumsi makanan yang mengandung seng, dengan cara banyak mengkonsumsi sumber makanan yang mengandung protein hewani, meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat serta menjaga kondisi sanitasi lingkungan rumah sesuai dengan persyaratan kesehatan. (RA)


Pengendalian Faktor Risiko Lingkungan untuk Kejadian Leptospirosis.

       Yudied Agung Mirasa, salah satu alumni S2 Kesehatan Lingkungan angkatan pertama (2002/2003) terus berkiprah dalam pengembangan dan pemuthakiran ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) bidang kesehatan khususnya kesehatan lingkungan. Yudied mempresentasikan hasil penelitiannya dalam  forum ilmiah internasional yang bergengsi dalam bidang ilmu kesehatan masyarakat. Karya ilmiahnya lolos seleksi untuk disajikan pada kegiatan ilmiah 46th APACPH Conference pada tanggal 17-19 Oktober 2014 di Kuala Lumpur Malaysia. Dalam kesempatan ini, Yudied mempresentasikan hasil penelitian melalui Poster dengan judul Leptospirosis Outbreak in Sampang Distict-East Java Indonesia Year 2013.

       Akhir April 2013 dilaporkan adanya 44 pasien leptospirosis di Kabupaten Sampang dengan Case Fatality Rate sebesar 6,3%. Leptospirosis adalah penyakit akibat bakteri Leptospira sp. yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia atau sebaliknya (zoonosis). Di Indonesia, penularan paling sering terjadi melalui tikus pada kondisi banjir, seperti yang terjadi di Kabupanten Sampang. Kabupaten Sampang merupakan daerah langganan banjir tahunan. Namun demikian tidak pernah dilaporkan adanya penyakit ini sebelumnya. Jenis penelitian adalah observasional dengan rancangan cross sectional. Penyelidikan dilakukan pada pasien yang dirawat di RSUD Kabupaten Sampang. Alat diagnosis yang digunakan adalah Antileptospira Ig M cassette yang bekerja dengan prinsip lateral-flow assay dan uji Polymerase Chain Reaction (PCR). Analisis dilakukan secara deskriptif. Hasil pemeriksaan menyatakan 50,0% positif IgM antileptospira, konfirmasi dilanjutkan dengan uji PCR mendapatkan 86,4% positif leptospirosis. Trap sukses pada spot survey mendapatkan 4 – 16 %, mendapatkan spesies Rattus tanezumi, Rattus novergicus dan Suncus murinus yang merupakan inang reservoir potensial penularan. Uji PCR pada ginjal tikus mendapatkan 6 (11,7%) ekor tikus positip bakteri leptospira. Keberadaan luka pada kaki atau tangan serta adanya kontak dengan banjir merupakan faktor risiko terjadinya leptospirosis. Kewaspadaan dini dengan peningkatan kapasitas petugas dalam mendeteksi leptospirosis dan pengendalian faktor risiko lingkungan dengan pemberian desinfektan pada air sumur, bak air bersih dan kebersihan lingkungan pemukiman untuk menekan keberadaan tikus. (Yudied/RA)